Senin, 11 Juli 2011

Ketika Allah Berkata "TIDAK"



Assalamu'alaikum wr. wb.

Ini ada kumpulan kata-kata yang bermakna ..... semoga bermanfaat ....

Ketika Allah Berkata Tidak


Ketika manusia berdo'a,

"Ya Allah ambillah kesombonganku dariku."
Allah berkata,
"Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
Allah berkata,
"Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah beri aku kesabaran."
Allah berkata,
"Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan tidakdiberikan, kau harus meraihnya sendiri."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah beri aku kebahagiaan."
Allah berkata,
"Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."


Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan."
Allah berkata,
"Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat."
Allah berkata,
"Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Allah berkata...
"Akhirnya kau mengerti ...!"

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali
orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.


Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es.
Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita.


Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya.
Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.

Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa.


Semoga Bermanfaat

Wassalamu'alaikum..wr..wb


SALAM UKHUWAH FILLAH

Air Mata..


Assalamu’alikum wr.wb. semuanyaaa…



teriring doa pagi hari ini…..jari-jariku ingin sekali menari diatas laktop yang setia menemani ku, ingin menyampaikan semua rasa dan asa dalam hati hanya kepada Alloh yang Maha segalanyaaaa……

terkadang kita tak punya alasan knapa harus menangis tapi air mata begitu saja keluar….ya semua adalah ekskpresi dari wanita, berbagai macam cara untuk mengekspresikan suasana hati…..entah itu bahagia atau kesedihan semua identik dengan air mata…. tapi hanya Allohlah yang tau semua yang ada dalam hati dan pikiran kita…krn Alloh maha mengetahui.

pagiii ini rasanya kangen dengan siraman tausiah yang dapat menyejukkan hati, memotivasi dalam kebajikan dan hanya mendapat ridho Alloh….

yaaaaa tausiah-tausiah itu yang selalu ku rindukan dalam setiap saat….

tulisan dan air mata adalah judul tulisan ini…..tulisan adalah ekpresi yang ingin penulis tulis dalam mengekspesikan semua yang ingin ditulis…biarlah tangan ini mengetik apa yang ingin diketik….menulis apa yang ingin di tulis….

pagi-pagi sudah menuliskan status FB tentang “Hanya berharap kepada Alloh”

yaaaaaa....... makna kalimat yang sangat dalam…karena ketika kita berharap pada manusia pasti akan kecewa, karena manusia terkadang lupa akan janji-janji dan juga penuh dengan kata-kata manis yang tak sesuai dengan kenyataan… terkait alasan apapun yang menyebabkan semua menjadi fatamorgana dan tidak nyata….

hal itu yang membuat penulis ingin membahas sedikit arti kalimat “hanya berharap kepada Alloh” krn Allohlah tempat kita meminta pertolongan dan tempat kita kembali…. jika berharap kepada Alloh kita gak akan kecewa krna Alloh akan memberikan yang terbaik buat kitaaa, Alloh selalu ada buat kitaaa, dan tiap saat Alloh ada, dimanapun kita menyebut Asma Alloh..hati kita pasti akan tenang…

Air mata adalah ekpresi ungkapan hati sebagian wanita, meskipun tak sedikit pula laki-laki juga ada yang sering meneteskan air mata ketika terharu misalnya saja, laki-laki yang melihat saudaranya meninggal, melihat saudranya atau istrinya melahirkan dan laki-laki yang mengasihi segala sesuatu dengan tulus karena Alloh.. dan air matanya menetes krna melihat kebesaran Alloh.

Ada pertanyaan “Apakah AIr mata identik dengan kesedihan”?????


buat penulis air mata adalah ekspresi ungkapan perasaan, bisa karena kesedihan dan bisa krna kebahagiaan..itulah hebatnya menjadi wanitaaaa…..

karena wanita cantik adalah wanita yang………

“wanita cantik melukis kekuatan lewat masalahnya…..

“tersenyum saat tertekan……………..

“tertawa disaat harus menangis………………

“mendoakan disaat terhina…………….

“mempesona krna memaafkan……………..

“wanita cantik menyayangi tanpa pamrih……………..

“bertambah kuat dalam doa

“yang cakep melebihi permata kilaunyaaa……………….

semoga tulisan dan air mata pagi ini membw berkah buat semua yg membaca…..dan memotivasi untuk selalu dlm kebajikan yg diridhoi Alloh…


SALAM UKHUWAH FILLAH
* 
Wanita Sholehah,jadilah Bunga Akhir zaman*::~ 
LUQYANA 

Minggu, 10 Juli 2011

Amalan amalan di bulan Sya’ban, Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban dan Keutamaan malam nisfu Sya’ban serta Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban

Saudara-saudara seiman !!!
Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya’ban ini. Kita persiapkan diri kita baik fisik dan rohani untuk bulan yang penuh karunia tersebut.
Mempersiapkan rohani kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita, yaitu  fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran. Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi agama dan keimanan kita.
Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys’ban semoga bisa kita baca dan amalkan:
Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.
Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa  (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).
Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban
Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.
Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban?
Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.
Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam
Keutamaan di Bulan Sya’ban
Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.
Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.
Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda,
ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.
Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).
Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.
Karena, di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.
Nishfu Sya’ban
Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.

HIKMAH BULAN SYA'BAN


Saat ini kita telah memasuki bulan Sya'ban. Banyak orang melalaikan bulan Sya’ban, sebagai bulan biasa. Padahal Rasulullah saw menunjukkan keutamaan-keutamaan di bulan Sya’ban. Berikut taushiyah oleh Ustadz Salim A. Fillah mengenai keutamaan bulan Sya’ban:

Sya'ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah SAW bersabda: “Sya'ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan. Sya'ban adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. (HR. Ahmad dan Nasa'i, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1898).


Karena itu, berdasar riwayat shahih disebutkan bahwa RasuluLlah SAW berpuasa pada sebagian besar hari di bulan Sya'ban. 'Aisyah RA berkata: "Tak kulihat RasuluLlah SAW menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadan. Dan tidak aku lihat bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan Sya'ban. (HR Al Bukhari & Muslim). Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari 'Aisyah: "Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya. selain bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya'ban seluruhnya”. Maksud hadits itu adalah, beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan Sya'ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian. Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan 'berpuasa sebulan penuh' padahal yang dimaksud adalah berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu. Demikian keterangan Ibnu Hajar Al 'Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213.



Maka berpuasa di bulan Sya'ban adalah utama, karena:
•    'Amal-'amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah SWT.
•    Sya'ban ialah bulan yang disepelekan; beramal dan menghidupkan syi'ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri.
•    Penyambutan dan pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan. Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya; Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu', dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat.
•    Hikmah lainnya, puasa di bulan Sya'ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya dan waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga. Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: Puasa Sya'ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan. Untuk shalat; ada rawatib qabliyah & ba'diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa Sya'ban & ba'diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal. Keutamaan Sya'ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha'iful Ma'arif, 1/244.

Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya'ban? Hadits-hadits terkait Nishfu Sya'ban ini sebagian dikategorikan dha'if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu' (palsu). Khususnya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah dan bilangan pahala atau balasan tertentu. Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu Sya'ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.
"Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu Sya'ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya." (HR Ibnu Majah (1390)). Dalam Zawa'id-nya, riwayat ini dinyatakan dha'if karena adanya perawi yang dianggap lemah. TETAPI, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu'adz ibn Jabal dalam Mu'jamul Kabir Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). Al-Arna'uth dalam ta'liqnya pada dua kitab terakhir berkata, "Shahih dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung)”. Al-Albani juga menilai hadits Nishfu Sya'ban ini shahih {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)} Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun malam Nishfu Sya'ban, di dalamnya terdapat keutamaan." (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291).


Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan tabi'in di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma'dan & Luqman bin Amir. yang menghidupkan malam ini dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, "Ini bukan bid'ah! 'Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza'i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat dan berdoa bersama di Nishfu Sya'ban. Tetapi beliau -dan 'ulama yang lain- menyetujui keutamaan shalat, baca al-Quran dll pada Nishfu Sya'ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha'iful Ma'arif, 151) dan Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292). Adapun 'ulama Hijaz seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu Sya'ban sebagai bid'ah. Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain dan puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik. Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami dan tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala 'amal ibadah utama pada bulan Sya'ban.


Bulan Sya’ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha' hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. 'Aisyah berkata: “Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Nabi SAW. (HR Al Bukhari-Muslim) Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) dan Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits 'Aisyah ini disimpulkan: Jika ada 'udzur, maka qadha' puasa bisa diakhirkan sampai bulan Sya’ban. Tanpa 'udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama. Bagaimana jika lalai; tanpa 'udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur 'ulama berpendapat: Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu dan harus bertekad untuk segera meng-qadha'-nya setelah Ramadhan ini. Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian 'ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi. Yakni mengeluarkan 1/2 Sha' makanan pokok (lk 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun ini. Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya dan dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya. Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi SAW. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189)


Jika masuk bulan Sya’ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan. Sehari atau 2 hari terakhir Sya’ban dinamakan sebagai Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan sudah masuk Ramadhan/belum. Nabi saw bersabda: "Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa." {HR Al Bukhari & Muslim} Maknanya; terlarang untuk mengkhususkan diri berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha', dll) dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha'iful Ma'arif 151)

WAJAH RASULALLAH YANG BERCAHAYA



Telah diriwayatkan daripada Siti Aishah bahwa ia telah berkata : "Sedang aku
menjahit baju pada waktu sahur (sebelum subuh) maka jatuhlah jarum
daripada
tanganku, tiba-tiba kebetulan lampu pun padam, lalu masuklah Rasulullah
s.a.w. Ketika itu juga aku dapat mengutip jarum itu karena
cahaya wajahnya, lalu aku berkata,

"Hai Rasulullah alangkah bercahayanya wajahmu !"

Seterusnya aku bertanya: "Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat ?"

Jawab Rasulullah : "Orang yang bakhil."

Aku bertanya lagi : "Siapakah orang yang bakhil itu?"





Jawab baginda : "Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap selamat ke atasku."

Telah diriwayatkan daripada Siti Aishah bahwa ia telah berkata : "Sedang aku
menjahit baju pada waktu sahur (sebelum subuh) maka jatuhlah jarum
daripada
tanganku, tiba-tiba kebetulan lampu pun padam, lalu masuklah Rasulullah
s.a.w. Ketika itu juga aku dapat mengutip jarum itu karena
cahaya wajahnya, lalu aku berkata,

"Hai Rasulullah alangkah bercahayanya wajahmu !"

Seterusnya aku bertanya: "Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat ?"

Jawab Rasulullah : "Orang yang bakhil."

Aku bertanya lagi : "Siapakah orang yang bakhil itu?"

Jawab baginda : "Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap selawat ke atasku."


BERDOA
Berkata Al-Barra' r.a . bahwa Nabi s.a.w. bersabda: "Segala doa itu
terdinding (terhalang untuk dikabulkan) daripada langit sehingga orang yang
berdoa itu mengucapkan solawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad."

KIJANG DAN ANAKNYA
Diriwayatkan
oleh Abu Na'im di dalam kitab 'Al-Hilyah' bahwa seorang lelaki lalu di
sisi Nabi s.a.w. dengan membawa seekor kijang yang
ditangkapnya,
lalu Allah Taala (Yang berkuasa menjadikan semua benda-benda bercakap)
telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi s.a.w. :

"Hai
Pesuruh Allah, sesungguhnya aku ada mempunyai beberapa ekor anak yang
masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan mereka sedang
kelaparan, oleh itu haraplah perintahkan orang ini melepaskan aku
supaya aku dapat menyusukan anak-anakku itu dan sesudah itu aku akan
balik ke mari."

Bersabda Rasulullah s.a.w. " Bagaimana kalau engkau tak balik ke mari semula ?"
Jawab kijang itu: "Kalau aku tidak balik ke mari, nanti Allah Taala akan melaknatku sebagaimana Ia
melaknatkan orang yang tidak mengucapkan selawat bagi engkau apabila disebut nama engkau disisinya."

Lalu Nabi s.a.w. pun bersabda kepada orang itu : "Lepaskan kijang itu buat sementara waktu dan aku jadi penjaminnya. "

Kijang itu pun dilepaskan dan kemudian ia kembali ke situ semula. Maka turunlah malaikat Jibril a.s. dan berkata :


"Hai
Muhammad, Allah Taala mengucapkan salam kepada engkau dan Ia (Allah)
berfirman: "Demi KemuliaanKu dan KehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih
kasihkan umat Muhammad daripada kijang itu kasihkan anak-anaknya dan
Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali
kepada engkau." Alhamdulillah. marilah memperbanyakkan bersukur dan
bersolawat kerana kita tergolong dalam umat Muhammad.

Panjangkan
kisah ini kepada sahabat-sahabat dan saudara fillah. Semoga kita sama-sama
berusaha dalam menghidupkan rasa kasih sayang
terhadap Rasulullah SAW.

Hai orang-orang yang
beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan,
sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (surah Al-Baqarah ayat : 208)


SALAM UKHUWAH FILLAH




BERSYUKURLAH DENGAN APA YANG TIDAK DISUKAI



Assalamu’alaikum … Sahabat hati

"Aku TAK SELALU MENDAPATKAN apa yang KUSUKAI,
Oleh karena itu AKU SELALU MENYUKAI apapun yang aku DAPATKAN."

Kata-Kata Diatas merupakan wujud SYUKUR.
Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting.
Dengan BERSYUKUR kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan BAHAGIA.

Sebaliknya, perasaan TAK BERSYUKUR akan senantiasa membebani kita.
Kita akan selalu merasa kurang dan TAK BAHAGIA.

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan ....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diINGINkan ?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk BELAJAR ...

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ...
Di masa itulah kamu TUMBUH ...

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk BERKEMBANG ...

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun KEKUATAN dan KARAKTERmu ...

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan PELAJARAN yang berharga ...

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu PERBEDAAN ...

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu…
Dan semua itu akan menjadi BERKAH bagimu ...

Wallahu’alam

Selasa, 05 Juli 2011

Dan Aku Mencintaimu Karena Allah..

Cinta itu adalah ketika timbul perasaan aneh disekujur tubuhmu baik ketika kau melihatnya, mendengarnya, ataupun ketika kau merasakan kehadirannya di dekatmu. Adakalanya kau selalu ingin dekat dengannya, namun yakinlah, bahwa jarak yang jauh terkadang justru mampu mendekatkan hati kalian. Dan juga sebaliknya, kedekatan tanpa ikatan pernikahan seringkali merenggangkan hati kalian.
Cinta itu tumbuh secara tak terduga. Terkadang kau berpikir bahwa kau LEBIH BAIK mencintai orang tersebut. Namun ketika HATImu menolaknya kau tak akan mampu berbuat apa-apa. Biarlah perlahan-lahan hatimu, bersama dengan masa yang akan menghapusnya dari pikiranmu.
Namun ketika HATImu membenarkan, kau justru akan dibuat kebingungan karenanya. Kau justru akan berpikir ulang sebelum kau benar-benar yakin bahwa dialah cintamu yg sebenarnya.
Cinta karena Allah adalah ketika kau mengerti, tak hanya kelebihan dari orang itu yang kau lihat, namun juga MEMAHAMI dan MENERIMA kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Sungguh pun kau baru boleh mengatakan bahwa "aku mencintainya" setelah kau benar-benar mengenalnya dengan sebenar-benarnya, yaitu baik dan buruknya.

Cinta karena Allah itu tidak akan pernah sebatas pada penampilan dan kecantikan. Adakalanya kau akan lebih mencintai sebongkah arang hitam daripada sebutir intan yang berkilauan. Karena sesungguhnya kau sadar bahwa kau membutuhkan sebuah kehangatan yang mampu mengusir rasa dingin dari jiwamu. Lebih daripada sekedar keindahan yang ternyata membuatmu beku kedinginan.

Cinta karena Allah itu TIDAK akan tumbuh dari kecantikan seseorang. Namun KECANTIKAN seseorang justru akan tampak ketika kau mencintainya. Adalah bagaimana kau bisa mencintainya karena akhlak dan agamanya, bukan pada rupa, harta, ataupun nasabnya. karena dengan inilah kau bisa menepis kefakiran, kehinaan, ketidak bahagiaaan, dan kemudian menggantinya dengan kemuliaan yang diridhoi oleh Allah SWT.
Cinta karena Allah akan membuatmu merasa tidak perlu memiliki meskipun dalam hatimu kau sangat ingin. Adalah bagaimana kau bisa ikhlas ketika dia ternyata lebih mencintai orang lain dan bahkan kau pun bisa berdoa agar mereka bisa berbahagia.
Cinta karena Allah tidak akan menggiringmu pada jurang kemaksiatan. Ketika kau melihat dia dan mencintainya, hal itu akan membuatmu semakin berbenah diri, kau menjadi mampu melihat kekurangan-kekurangan dirimu untuk kemudian memperbaikinya.
Cinta Karena Allah tidak akan membuatmu berpikir sempit, justru kau akan berpikir lebih jauh ke depan, lebih matang, lebih dewasa, dan ke arah yang lebih serius…!! Kau tidak akan berpikir dan membayangkan apabila kalian sudah pacaran, namun kau sudah berpikir ke arah pernikahan. Karena kau sadar bahwa ia jauh lebih kokoh, suci, berarti dan bermakna di hadapan Allah daripada sekedar pacaran.
Cinta karena Allah terkadang tak tumbuh dengan sendirinya. Kita seperti layaknya diberi biji untuk ditanam. Lalu ia tergantung pada bagaimana kita merawatnya. Jika kita baik, maka baik pulalah perasaan itu, dan juga sebaliknya. Terkadang pula bisa jadi ia tumbuh dengan sendirinya. Ada saat dimana kau terkadang ingin membunuh saja perasaan tersebut namun entah mengapa kau tak berdaya. Karena sebenarnya bukanlah kita yang menumbuhkan perasaan cinta tersebut, namun Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang lah yang berkehendak atas segala perasaan itu.
Cinta karena Allah Bukanlah tentang bagaimana kalian saling memandang, namun bagaimana tentang kalian melihat ke arah yang sama, dan berjalan ke arah yang sama. Kalian sadar bahwa kalian tidak akan mampu menghadapi perjalanan tersebut sendirian melainkan kau butuh seseorang untuk berjalan disisimu, yang saling membantu, saling meringankan, dan saling mengarahkan dalam perjalanan menggapai Ridha-Nya.
Cinta karena Allah tidaklah selalu membutuhkan beragam kesamaan diantara kalian. Namun yang terpenting adalah kesamaan prinsip dan tujuan, yaitu menggapai ridha Allah SWT. dalam dirimu kau pun ingin agar kau merasa layak untuk mencintai dan dicintai olehnya.