Selasa, 12 Juli 2011

Penulisan " AAMIIN" Yang Benar


Bissmillahirrohmanirrohiim. . .
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. . .
M…ungkin artikel ini tidaklah seberapa penting buat sebagian orang, tapi buat saya pribadi teramat sangatlah penting sekali (lengkap amat kalimatnya ).
Banyak saya temui diantara… teman-teman FB ini yang menurut saya salah dalam penulisan Aamiin. Ada yang menulis “amin“, “amiin”, “aamin” bahkan tidak jarang juga ada yg menulis “Amien” Seperti kita ketahui Lafaz Aamiin diucapkan didalam dan diluar salat, diluar salat, aamiin diucapkan oleh orang yang mendengar doa orang lain.
Aamiin termasuk isim fiil Amr, yaitu isim yang mengandung pekerjaan. Maka para ulama jumhur mengartikannya dengan Allahummas istajib (ya Allah ijabahlah). Makna inilah yang paling kuat dibanding makna-makna lainnya seperti bahwa aamiin adalah salah satu nama dari asma Allah Subhanahu wata ’alaa. Membaca aamiin adalah dengan memanjangkan a (alif) dan memanjangkan min, apabila tidak demikian akan menimbulkan arti lain.
Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu : 1. ”AMIN” (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM 2. “AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN 3. ”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA 4. “AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAH DOA KAMI
Terus Bagaimana dengan pengucapan/Penulisan “ Amien“ ??? Sebisa mungkin untuk yang satu ini (Amien) dihindari, karena Ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah do’a ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra) Marilah kita biasakan menggunakan kaidah bahasa yang benar dan jangan pernah menyepelekan hal yang sebenarnya besar dianggap kecil. Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.. Salam ukhuwah ^_^
————————————————————————
Dikutip dari tulisan saudara Safar Udin

PENULISAN SALAM YANG BENAR


Salam dalam Islam (Assalamualaikum / السلام عليكم / as-salāmu `alaykum) adalah sebuah sapaan yang didalamnya terdapat doa keselamatan, Assalamualaikum ini artinya adalah semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ibnu Al-Arabi di dalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”, dengan dasar ini mari kita sejenak mengupas tata cara salam dalam Islam yang baik dan benar, karena tidak sedikit saya secara pribadi banyak sekali menemukan kesalahan-kesalahan dalam penyampaian salam, dan tidak menutup kemungkinan juga kita secara tidak disadari pernah menyampaikan salam yang salah, jadi mari kita evaluasi bersama-sama mengenai salam ini.
Rasulullah SAW memberi salam kepada keluarganya, sahabatnya, dan pada seluruh umat muslim dengan Lafadz “Assalamualaikum” dan dalam menjawab salam rasulullah memakai lafadz “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.
Dengan demikian sudah sangat jelas salam yang benar berdasarkan dengan apa yang diajarkan rasulullah adalah memberi salam dengan “Assalamualaikum” dan menjawab salam dengan “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, sebagai umat muslim yang baik sudah sepantasnyalah kita mengikuti cara penyampaian salam yang benar dari Rasulullah SAW.
Dikehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang berkirim-kirim salam atau menitipkan salam kepada temannya, sahabat, rekan, keluarga dan yang lainnya melalui seorang perantara baik itu melalui temannya teman kita, sahabatnya sahabat kita dan yang lainnya bahkan saya juga yakin kita semua pernah melakukan hal tersebut, tapi tahukah anda bahwa kita sering sekali melakukan kebiasaan kirim salam / titip salam dengan cara yang salah yaitu seperti ini : “Tolong sampaikan salam saya kepada si fulan” atau “Salam ya ke si fulan” atau “Salamin ya ke si fulan” dan dengan berbagai gaya bahasa lainnya, padahal cara yang benar dalam mengirimkan salam / menitipkan salam melalui seorang perantara adalah seperti ini : “Tolong sampaikan salam Assalamualaikum kepada si fulan”, atau “Salam assalamualaikum ya ke si fulan” atau “Salamin assalamualaikum ke si fulan”. intinya dalam megirimkan/menitipkan salam kita harus jelas menyebutkan Assalamualaikum dalam kata-kata titipan salam kita tersebut.
Kemudian kesalahan lain yang sering terjadi dan mungkin tanpa kita sadari juga  yaitu dalam penyingkatan salam “Assalamualaikum” dalam penulisan SMS, chatting, surat, email dan lainnya, kita tidak bisa seenaknya saja mempersingkat salam “Assalamualaikum” ini kenapa demikian? karena sesuai dengan yang saya utarakan diawal  bahwa salam dalam islam adalah sapaan yang didalamnya terdapat doa keselamatan, Penyingkatan yang salah dalam kebiasaan kita adalah seperti ini : “As”, “Ass”, “Akum”, “Askum”, “Ass. Wr.Wb”, “Mikum”, “Samelekom” dan masih banyak lagi penyingkatan salam dengan gaya dan bahasa gaul lainnya yang kesemuanya itu malah menjadikan salam “Assalamualaikum” menjadi berubah arti dan makna seperti “As(dalam bahasa inggris)” malah memiliki arti “sebagai”, “Ass(dalam bahasa inggris)” memiliki arti yang sangat parah yaitu keledai, orang bodoh dan (maaf) pantat, lalu “Akum(gelar untuk orang-orang yahudi)” adalah singkatan dari “Avde Kokhavim U Mazzalot” yang artinya “Hamba-hamba binatang dan orang-orang sesat”, jelas sekali penyingkatan yang tertera diatas sangat jauh dari makna doa keselamatan dalam “Assalamualaikum”.
Lalu apakah sebenarnya kita ini boleh mempersingkat salam “Assalamualaikum” dalam penulisan? tentu saja boleh tapi dengan penyingkatan yang benar yaitu “As Salam”, bukan penyingkatan yang seperti diatas telah diuraikan, “As-Salaam” adalah singkatan yang benar dari “Assalamualaikum”, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari Nama-nama Agung Allah SWT dalam surat Al-Hasyr ayat 23.
Satu lagi kesalahan dalam pengucapan salam yang terkadang sekilas ini seperti benar, bahkan tidak sedikit pula yang mengucapkan salam ini adalah orang-orang yang bertitle Haji, hajah, ustad dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya, atau mungkin kita juga pernah mengucapkannya, seperti apakah pengucapan salam yang salah tapi seperti benar itu? yaitu salam “Assalamualaikum” yang ditambahkan kata “Ta’ala”, saya yakin kita semua pasti pernah mendengar pengucapan “Assalamualaikum” dengan ditambahkan kata “Ta’ala”, biasanya diucapkan seperti ini “Assalamualaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh”, sekilas pengucapan salam seperti itu terdengar begitu bagus dan terdengar begitu benar, padahal ini adalah salah, berdasarkan kitab Al-Adzkar - Imam Nawawi, nabi besar kita Muhammad Saw telah mengajarkan kita cara salam sesama umat islam dengan 3 ucapan salam yaitu :
1. Assalamualaikum
2. Assalamualaikum Warahmatullah
3. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Cara Memberi salam sesama umat islam ini ada dalam hadist dan merubah hadist hukumnya adalah pancung. disinilah kenapa menambahkan “Ta’ala” dalam salam “Assalamualaikum” adalah salah.
Semoga Kutipan Ini Dapat Bermanfaat, jika ada kesalahan kata atau bahasa saya minta maaf, kesalahan datangnya dari manusia, dan kebenaran datangnya dari Allah Swt.
Assalamualaikum

Senin, 11 Juli 2011

BERSHALAWAT NABI (RENUNGAN HATI)




Sesungguhnya Shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hati setiap muslim, dan bershalawat merupakan bagian dari perintah Allah Subhanahu waTa’ala, artinya, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah dengan penuh penghormatan.”(QS. Al-Ahzab: 56)

Rasulullah S.A.W telah bersabda bahwa, "Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku.

Berkata Jibril A.S. : "Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca sholawat ke atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar."

Berkata pula Mikail A.S. : "Mereka yang bershalawat ke atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu."

Berkata pula Israfil A.S. : "Mereka yang bershalawat kepadamu akan aku sujud kepada Allah S.W.T dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah S.W.T mengampuni orang itu."

Malaikat Izrail A.S pula berkata : "Bagi mereka yang bershalawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi."

*****************

Di antara bentuk Shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang paling shahih, yaitu:

Asy-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah) meriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, maka kami berkata, “Wahai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kami telah mengetahui, bagaimana mengucapkan salam kepada engkau. Maka bagaimana kami bershalawat kepada engkau?” Beliau berkata, “Ucapkanlah oleh kalian:

Allaahumma Shalli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadiw Wa'alaa Aali Sayyidinaa Muhammadin. Kamaa Shallaita 'Alaa Sayyidinaa Ibraahiim Wa 'Alaa Aali Sayyidinaa Ibraahiim. Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidinaa Muhammad. Kamaa Baarakta 'Alaa Sayyidinaa Ibraahiim Wa 'Alaa Aali Sayyidinaa Ibraahiim. Fil-'Aalamiina Innaka Hamiidum Majiid

Ya Allah! limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
Engkau telah melimpahkan shalawat kepada (Ibrahim dan kepada) keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Dan limpahkanlah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarganya,sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada (Ibrahim dan kepada) keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha mulia.
( HR Bukhari, Muslim, Nasa'i dalam "Amalul Yaumi Wal Lailah" (162/54)
Humaidi(138/1) dan Ibnu Mandah(68/2) dan ia berkata : "Hadits ini telah
disepakati akan kesahihannya". )

DALIL MEMBACA SHALAWAT KEPADA RASULULLAH SAW

1.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi, Wahai orang yang beriman ! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab 56)

Ibnu Katsir rahimahullaah berkata, “Maksud dari ayat ini adalah, bahwa Allah Subhanahu waTa’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya, tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya dan di sisi para makhluk yang tinggi (Malaikat). Dan bahwasanya Allah Subhanahu waTa’ala memuji beliau di hadapan para Malaikatnya, dan para Malaikat pun bershalawat kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan penduduk bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, supaya terkumpul pujian terhadap beliau dari peghuni dua alam, alam atas (langit) dan alam bawah (bumi) secara bersama-sama.”(Tasir Ibnu Katsir Jilid 3 hal 514)

2.“Siapa yang membacakan salawat untukku satu kali, maka Allah akan menurunkan rahmat kepadanya sepuluh kali ( HR. Muslim)”

3.Ibnu Mas’ud berkata Rasulullah saw. Bersabda “ Orang yang terdekat kepadaku pada hari kiamat, ialah orang yang banyak membaca sholawat untukku (HR. At-Tirmidzi)”

4,“Sesungguhnya yang lebih utama dari hari-harimu ialah hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca sholawat untukku di hari itu, karena sesungguhnya bacaan sholawatmu itu dihidangkan untukku (HR. Abu Dawud)”

5,“ Tiada seorang yang mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku hingga dapat menjawab salam (HR. Abu Dawud)”

6.“Sesungguhnya doa itu mauquf (terhenti) di antara langit dan bumi, tidak naik sedikit pun darinya sehingga engkau bersholawat kepada nabimu
( HR. At-Turmudzi)”

7.“Orang yang kikir yaitu yang disebut namaku kepadanya lalu ia tidak membaca sholawat untukku (HR. A-Turmudzi)”
8.Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku satu shalawat, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh.
(HR. Muslim, hadits no.408)

9.Dari Abu Darda radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sepuluh kali di waktu pagi dan sore, maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.”
(Hadis hasan, Shahih al-Jami’ oleh al-Albani hadits no.6357)

Peringatan Terhadap Orang Yang Meninggalkan Shalawat Secara Sengaja

Imam at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Terhinalah seseorang yang namaku disebut di sisinya, tetapi dia tidak bershalawat kepadaku.”
(hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2870)

Beliau juga meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang bakhil (kikir) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”
(hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2811)

Waktu-waktu yang Disunnahkan untuk Mengucapkan Shalawat

Para ulama menyebutkan ada waktu-waktu dan kondisi-kondisi yang disunahkan untuk bershalawat, dan mungkin secara singkat penjelasannya sebagai berikut:

1. Setelah mendengar dan mengikuti ucapan muadzin ketika adzan.
2. Ketika masuk dan keluar masjid.
3. Setelah tasyahud (tahiyat) akhir di dalam shalat.
4. Setelah doa qunut.
5. Di dalam shalat Jenazah setelah takbir yang kedua.
6. Sebelum dan sesudah berdoa.
7. Ketika berkhutbah jum’at, I’ed, Istisqa dan lain-lain (khusus bagi khatib).
8. Ketika disebut nama beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam.
9. Ketika berada di Shafa dan Marwah bagi orang yang sedang Haji atau Umrah.
10.Hari jum’at.
11.Ketika pagi dan sore.
12.Ketika menutup sebuah majelis atau pertemuan (taklim, kajian, pelajaran dll)
13.Ketika menyampaikan pelajaran dan ketika selesainya.
14. Di antara takbir-takbir dalam shalat I’ed (Asy-Syifaa, oleh al-Qadhi ‘Iyadh, dan Jalaaul Afham).

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan secara garis besar tentang buah dari shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, di antaranya:

1. Shalawat termasuk bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu waTa’ala
2. Sebab untuk mendapatkan kebaikan, dinaikkan derajat dan penghapusan dosa.
3. Mendapat Syafa’at beliau pada hari kiamat.
4. Sebab untuk mendapatkan kedekatan dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat.
5. Sebab shalawat (do’a) Allah dan Malaikat kepada kita.
6. Sebab dikabulkannya do’a.
7. Sebab pengampunan dosa dan pengusir kegundahan.
8. Sebab untuk mendapatkan majelis yang baik (berkah).
9. Menghindarkan sifat bakhil dari orang yang bershalawat.
10.Sebab untuk melanggengkan dan meningkatkan cinta kita kepada Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam.
11.Terkandung di dalamnya syukur, dan pengakuan terhadap nikmat Allah.
12.Sebab untuk mendapatkan berkah bagi jiwa, umur dan amalannya dan sebab kebaikannya (Jalaaul Afham hal. 612-626)

*******************

RENUNGAN (BETAPA SUSAHNYA AMALAN BATHIN) ( Ummu zidan Al Fathi II )



Bismillaahirrohmaanirrohiim

1. Ketika kita sembahyang, lahirnya kita berdiri, rukuk dan sujud dengan mulut komat-kamit memuji dan berdoa kpd Allah, tetapi sebenarnya di manakah hati kita (ingatan dan fikiran)? Adakah ia juga menghadap Allah, khusyuk dan tawadhuk serta merasa rendah dan hina diri dengan penuh pengabdian dan harapan serta malu dan takut kepada Allah swt? Atau adakah hati kita terbang menerawang ke mana-mana tempat dengan berpaling pada Allah Yang Maha Agung yang sedang disembah? Begitu juga ketika kita membaca Al-Quran, berselawat, berzikir, dan sebagainya lagi... adakah roh kita turut menghayatinya?

2. Pernahkah kita merasa indah bila bersendirian di tempat sunyi karena berdzikir pada Allah dan memberikan sepenuh perhatian kita kepadaNya, merasa rendah dan hina diri, menyesali dosa dan kelalaian, mengingatiNya sambil berazam untuk memperbanyak amal sholeh demi mendapat ridhoNya?

3. Kalau ada orang Islam yang ditimpa bencana dan berada dalam penderitaan, adakah hati kita merasa belas kasihan untuk membantu atau mendoakan dari jauh agar mereka mendapat pertolongan dari Allah?

4. Pernahkah kita menghitung dosa kita, lahir dan batin? Bila teringatkan dosa-dosa kita, apakah mudah untuk kita menangis menyesali diri sambil memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya?

5. Apakah kita sentiasa ingat pada mati yang akan datang beberapa saat saja lagi? Sebab Allahlah yg Maha Menghidupkan juga yg Maha Mematikan. Jadi ketika umur ini masih ada, apakah kita berusaha mencari jalan untuk mendekatkan diri kita kepadaNya?

6. Pernahkah kita hitung berapa banyak harta kita, duit kita, rumah kita, kereta kita, perabot kita, piring dan mangkuk kita, kain baju kita, makanan kita, dan lain-lain kepunyaan kita yang melebihi dari keperluan kita sendiri (yang halal)? Karena mana yang berlebihan itu akan dihisab, ditanya, dicerca, dan dihina oleh Allah di padang Mahsyar nanti apabila kita lebih sibuk menambah urusan dunia dan meremehkan akhirat?

7. Pernahkah kita merenung siapa2 saja orang-orang yang pernah kita kasari, umpat, tipu, fitnah, hina, kutuk, dan aniaya bisa kepada suami, isteri, ibu bapak, saudara , sahabat , tetangga dan siapa saja, supaya kita bisa meminta maaf dan membersihkan dosa dengan manusia di dunia ini lagi tanpa menunggu hari yg dahsyat? dan Senangkah kita untuk memaafkan kesalahan orang lain dan apakah kita mudah untuk terus meminta maaf bila bersalah?

8. Apabila kita sakit karena merupakan ujian dari Allah, dapatkah kita tenangkan hati kita dengan rasa kesabaran dan kesadaran bahwa sakit adalah kifarah dosa (pengampunan dosa) atau sebagai peningkat derajat dan pangkat di sisi Allah swt?

9. Ketika menerima takdir yang kita rasakan tidak sesuai dengan kehendak kita, dapatkah kita merasa ridha bahwa itu adalah satu pemberian dari Allah yang terbaik untuk kita?

10. Di waktu mendapat nikmat, terasakah di hati bahwa itu adalah pemberian dari Allah, lalu timbul rasa terima kasih kepada Allah dan rasa takut kalau-kalau ia tidak dapat digunakan di jalan Allah dan berazam untuk menggunakan nikmat itu demi Allah jua?

11. Kalau ada orang yang mengatakan atau mencerca kita di belakang kita, dapatkah hati kita merasa tenang lalu kita diamkan saja (tanpa rasa sakit dan susah hati serta dendam) bahkan kita memaafkan orang itu sambil mendoakan kebaikan untuknya sebab merasakan ia telah memberikan pahala kepada kita melalui cercaannya itu?

12. Begitu juga kalau orang menipu, menganiaya dan mencuri harta kita, mampukah kita relakan saja atas dasar kita mendapat pahala menanggung kerugian itu?

13. Kalau orang lain mendapat kesenangan dan kejayaan, dapatkah kita merasa gembira dan turut bersyukur serta mengharapkan kekalnya nikmat itu bersamanya tanpa ada rasa dengki dan sakit hati dengan kejayaan org itu?

14. Sanggupkah kita berbagi dengan orang lain di waktu orang itu memerlukan sesuatu yang kita juga perlukan?

15. Apakah kita merasa puas dan cukup dengan apa yang ada tanpa mengharapkan apa yang tidak ada?

Susah agaknya untuk kita menjawab persoalan2 di atas dengan jawaban2 yang seharusnya karena memang susah bagi insan biasa seperti kita untuk benar-benar menyempurnakan amalan batin. Walau bagaimanapun kita seharusnya menyimpan niat di hati kita dan seterusnya bersungguh-sungguh bermujahadah untuk menyuburkan amalan-amalan batin kita kerana amalan batin adalah lebih penting dari amalan lahir.
Rasulullah saw bersabda :
"Allah tidak memandang rupa dan harta kamu, tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu." (Hadits Riwayat Muslim)

Marilah kita terus belajar memperbaiki diri untuk membersihkan dosa lahir dan batin kita. Mari kita bermujahadah untuk itu. Mudah-mudahan Allah menolong dan meridhai kita. Aamiin Allaahumma Aamiin

Firman Allah:
"Dan mereka yang bermujahadah kepada jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami itu. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang-orang yang berbuat baik." (Surah Al-Ankabut: ayat 69)

Alhamdulillaahirobbil'aalamiin

AJAKLAH HATIMU BICARA..!!!!!


Sahabat Hatiku ….

• Ketika dirimu gelisah...
Sentuhlah hatimu dgn lantunan ayat2 cinta dalam kitab suci Al-qur'an.

• Ketika kau lemah...
Rangkum kembali makna-makna kebersamaan
bersama saudara-saudaramu agar saling menguatkan.

• Ketika kau lelah dan mulai putus asa...
Maka Allah swt akan tersenyum padamu...
YAKINLAH tiada usaha halal yg sia-sia.

• Ketika peluh & kerja tak dihargai...
Maka ingatlah saat itu kita sedang belajar tentang KETULUSAN.

• Ketika usaha keras kita dinilai sia-sia oleh orang lain...
Maka saat itu kita sedang memaknai KEIKHLASAN.

• Ketika hati terluka dalam karena tuduhan atas hal yang tak pernah kita lakukan...
Maka saat itu kita sedang belajar tentang MEMAAFKAN.

• Ketika lelah mendera & kecewa menerpa...
Maka saat itu kita sedang belajar memaknai tentang arti KESUNGGUHAN.

• Ketika sepi menyergap & sendiri membulat dalam keramaian...
Maka saat itu kita sedang memberi makna tentang KETANGGUHAN.

• Ketika kita harus membayar biaya yang sebenarnya tak perlu kita tanggung,
Maka saat itu kita sedang belajar tentang KEMURAHHATIAN.

• Bersama kesulitan ada kemudahan...Bersama Kesulitan ada kemudahan...
Jangan pernah merugikan & menyakiti org lain.
Allah maha meliihat & mendengar rintihan hatimu: BERDOALAH.

• Tetap semangat, sabar, tersenyum...
Dan Terus belajar..!! Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas KEHIDUPAN!

• Dia menaruhmu di tempat yang sekarang, bukan karena kebetulan..!!
Ada maksud yg TERINDAH di setiap rencanaNya..!! Bergembiralah !!