Senin, 10 Oktober 2011

Kisah Ajaib


Abu Bakar Al-Bazzaz. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad bin Abdulah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Rabi’ bin Tsabit bin Wahb bin Masyja’ah bin Harits bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik Al-Anshari Al-Ka’bi Al-Baghdadi Al-Bashri Al-Bazzaz, Al-Qadhi Abu Bakar bin Abu Thahir.
Ayahnya bernama Abu Thahir Abdul Baqi (w. 461 H), salah satu pembesar penduduk Baghdad, yang terkenal sebagai seorang syaikh yang shalih dan muhaddits.
Tokoh kali ini adalah putra Abu Thahir yaitu Al-Bazzaz, atau terkenal dengan sebutan Abu Bakar. Ia lahir pada hari Selasa, 10 Shafar 442 H, dan sudah hafal Al-Qur’an saat berusia 7 tahun.
Karena terlahir dalam komunitas para pecinta ilmu, dan keluarga ahli ilmu, Abu Bakar tumbuh menjadi lelaki yang menguasai berbagai bidang ilmu, dan memiliki banyak karya.
Kecintaan yang sedemikian dalam terhadap ilmu bisa dilihat dari antusiasmenya dalam mempelajari bahasa asing. Kisahnya bermula ketika ia ditawan oleh orang-orang romawi. Selama satu setengah tahun, ia terpenjara dalam penjara, dan selama lima bulan lamanya, lehernya dibelenggu, kedua tangan dan kedua kakinya dirantai. Mereka memaksanya untuk mengucapkan kekata kekufuran, “Katakanlah, “Al-Masih adalah anak Allah.”! sehingga kami akan membebaskanmu,” paksa mereka. Namun Abu Bakar enggan memenuhi permintaan mereka. Baginya, lebih baik mati daripada mengucapkan kekata kekufuran. Setelah itu, masih pada saat dipenjara, Abu Bakar menyaksikan ada yang mengajarkan tulisan romawi kepada anak-anak romawi, dan ia mempelajari itu semua dalam keadaan tertawan. Ketika ia berada dalam penjara. Subhanallah…,
Ibnu As-Sam’ani bahkan sampai memuji, “Beliau tahu berbagai ilmu, ahli sastra, oratoris, cakap berbicara dan suka berdiskusi.”
Pengakuan menakjubkan pernah terlontarkan dari lisan Abu Bakar sendiri, melalui riwayat Ibnu As-Sam’ani, “Mâ dhayya`tu sâ`atan min `umrî fî lahwin aw la`bin, aku tidak pernah menyia-nyiakan sesaat dari umurku dengan senda gurau dan main-main.”
Ada kisah menakjubkan yang pernah dialami oleh Abu Bakar. Kisah yang terjadi pada abad 5 Hijriyah itu bisa jadi hanya akan menjadi sejarah saja, padahal ia mengandung pelajaran berharga nan mulia, bila tidak tertuliskan secara bersanad dalam sebuah kitab. Tentu ini berkat jasa para ulama’ yang mengabadikan rekam jejak generasi salaf dalam buku-buku mereka. Dzaylu Thabaqâtil Hanâbilah karya Ibnu Rajab adalah salah satu contohnya.
Ya, kisah Abu Bakar Al-Bazzaz ini tertulis di dalam kitab Dzaylu Thabaqâtil Hanâbilah karya Ibnu Rajab, dengan perawi Syaikh Shalih Abul Qasim Abdullah bin Abul Fawaris Muhammad bin Ali bin Hasan Al Bazzaz yang mendengar langsung dari Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzaz Al-Anshari sendiri. Berikut kisah ringkasnya,
Dulu, Abu Bakar hidup di Mekah. Pada suatu hari, ia merasakan kelaparan yang amat sangat. Tidak ada bekal yang ia punyai untuk mengganjal perutnya. Lapar. Sangat lapar sekali.
Ketika sedang berjalan-jalan ke luar rumah, ia menemukan sebuah kantong dari sutera yang ditali dengan tali sutera juga. Karena tidak ada siapa-siapa, ia mengambil kantong tersebut dan membawanya pulang. Ia mengurai talinya, dan mendapati kalung yang terbuat dari permata. Kalung sedemikian indah itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Ah, pasti sangat mahal harganya, demikian kekata hatinya. Ia masih terus saja memperhatikan kalung tersebut seolah tak percaya. Menakjubkan.
Tetapi, ketika keluar dari rumah, tiba-tiba saja ada seorang kakek yang mengumumkan berita kehilangan, dan membawa buntalan uang yang berisi 500 Dinar [1 dinar=10 dirham, 1 dinar setara –sebagaimana pendapat jumhur ulama’ dengan 4,25 gram emas, jadi kalau sekarang satu gram emas seharga 400.000 rupiah -misalnya-, maka 1 dinar seharga 1.700.000 rupiah. Jadi, 500 dinar pada saat ini –dengan estimasi harga satu gram emas sekarang senilai 400.000 rupiah- seharga 850.000.000 atau 850 juta. Subhanallah, angka yang fantastis!].
Kakek tersebut akan memberikan buntalan uang berisi 500 dinar atau senilai 850 juta tersebut kepada sesiapa yang berhasil menemukan kantong yang berisi kalung permata.
Tatkala mendengar pengumuman tersebut, Abu Bakar Al-Bazzaz berkata dalam hati, “Aku sedang membutuhkan, dan aku pun tengah kelaparan, biarlah aku mengambil imbalannya dan memanfaatkannya, dan aku mengembalikan kantong tersebut.”
Abu Bakar mendatangi kakek tersebut, dan memintanya untuk datang ke rumahnya seraya meminta untuk menyebutkan cirri-ciri kantong tersebut. Abu Bakar terperanjat. Kakek tersebut memang pemilik kantong yang barusan ia temukan. Pasalnya, kakek itu tahu persis ciri kantong tersebut beserta isinya berupa kalung dari permata dan jumlahnya, tali yang dipergunakan untuk menali kantong itu juga diketahuinya.
Akhirnya, karena yakin bahwa kakek itulah sang pemilik kantong tersebut, Abu Bakar mengambilnya, dan menyerahkan kepada kakek tersebut. Kemudian, sang kakek hendak menyerahkan buntalan uang berisi 500 dinar yang tadi sudah dijanjikan kepada Abu Bakar, tetapi ia justru enggan mengambilnya, bahkan malah berkata dengan kekata yang menakjubkan, kekata seorang ahli ilmu yang menunjukkan kedalaman ilmunya, “Sudah wajib bagi saya untuk mengembalikan kantong ini kepada Anda, dan saya tidak mau mengambil upahnya.”
Kakek itu pun menjawab, “Lâ budda laka an ta’khudza, tidak, kamu harus mengambilnya!” ia mengulang-ulang kekata itu dan mendesak agar Abu Bakar menerimanya, tetapi tetap saja, sekalipun sangat membutuhkan bahkan sedang kelaparan, Abu Bakar menolak pemberian sang kakek. Akhirnya, karena tidak berhasil mendesak lagi, kakek tersebut meninggalkan Abu Bakar. Tetapi ia pergi dengan meninggalkan rasa takjub yang luar biasa. Pemuda shalih, kata dalam hatinya. Entah, bagaimana suasana hatinya pada saat itu, yang jelas ia justru merasa berhutang budi kepada pemuda yang baik hati itu.
Sementara itu, setelah kejadian penemuan kalung permata itu, pada suatu ketika, Abu Bakar keluar dari Mekah dengan menaiki kapal, mengarungi lautan. Di tengah lautan, gelombang datang bertubi-tubi dengan dahsyatnya. Kapal pecah, dan banyak penumpang yang tenggelam. Begitu pula dengan harta-harta mereka. Sementara Abu Bakar selamat, ia masih hidup karena memegangi pecahan kapal yang tenggelam tersebut. Selama beberapa saat, ia berada di tengah-tengah lautan, tidak tahu ia tengah berada di mana dan mau kemana?
Setelah terombang-ambing oleh gelombang lautan, ia terdampar di sebuah pulau yang dihuni oleh sebuah kaum. Sesampainya di sana, Abu Bakar mendatangi masjid, lalu membaca Al-Qur’an….,
Tiba-tiba saja…, semua orang mengerumuninya, mereka tertakjub dengan bacaan Abu Bakar. Mereka meminta agar diajari Al-Qur’an. Karena privat mengajarkan baca Al-Qur’an inilah, ia mendapatkan banyak rizki.
Suatu ketika, Abu Bakar melihat ada lembaran-lembaran dari mushhaf di dalam masjid. Ia mengamati, mengambil dan membacanya. Ketika melihat Abu Bakar membaca, penduduk pulau tersebut bertanya, “Apakah Anda mahir menulis?” Abu Bakar menjawab, “Ya.” Lalu mereka berbondong-bondong datang dengan membawa putra-putri mereka untuk diajari tulis-menulis, tak ketinggalan para pemudanya. Dari hasil mengajar tulis-menulis ini, Abu Bakar lagi-lagi mendapat rizki yang tidak diduganya. Alhamdulillah, ucap hatinya berkali-kali. Betapa maha pemurah dan dermawannya Allah Ta’ala, sang pemilik perbendaharaan langit dan bumi. Betapa mudahnya Allah memberikan rizki, kepada sesiapa saja yang Dia kehendaki.
Selesai mengajar, mereka mendatangi Abu Bakar sembari berkata, “Sesungguhnya di tengah-tengah kami ada seorang gadis yatim, dan dia memiliki ‘secuil’ dunia, kami ingin anda berkenan menikahinya.” Yah, kalau kita menggunakan bahasa sekarang ya, “Ustadz-ustadz, di sini ada gadis yang berharta dan keturunan orang ternama di desa ini, kaifa?” tetapi Abu Bakar menolak, ia enggan menikahi gadis tersebut, khawatir pernikahannya semata-mata karena gadis tersebut kaya. Tetapi mereka memaksa dan berkata, “Lâ bal, tidak… pokoknya Anda harus menikahinya.” Titik. Karena tidak bisa menolak, akhirnya tawaran mereka diterima juga. Bagaimana lagi? Sudah rizkinya, ucap hati Abu Bakar lagi.
Ketika resepsi acara pernikahan berlangsung, kedua mata Abu Bakar tertuju kepada kalung permata yang dikenakan di leher gadis mempelai, wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya. Ia terkaget. Kalung permata itu? seolah ia pernah melihatnya, tapi di mana dan kapankah? Oh iya, kalung permata itu adalah kalung milik si kakek yang dulu pernah ia temukan. Ia hamper melonjak-lonjak karena riang sekali hatinya. Lama sekali ia memandangi kalung permata itu, sementara orang sepulau yang menghadiri resepsi pernikahan melihat mata Abu Bakar yang hanya memperhatikan kalung, bukan si mempelai perempuan. Mereka pun mengingatkan, “Wahai Syaikh, Anda menghancurkan hati gadis yatim ini karena Anda hanya melihat kalungnya, dan tidak melihatnya.”
Ditegur seperti itu, Abu Bakar menceritakan kisahnya dulu; ketika ia dalam keadaan membutuhkan dan kelaparan, lalu menemukan kantong berisi kalung mutiara, dan pertemuan dengan si kakek yang menjanjikan upah 500 dinar kepadanya, tetapi ia menolaknya.
Mendengar kisahnya, penduduk pulau tersebut berteriak. Suara mereka bergemuruh. Terdengar pekikan takbir dan tahlil yang memenuhi ruangan resepsi pernikahan, hingga berita ini menyebar ke seluruh penduduk pulau itu, tanpa terkecuali. Mereka begitu bahagia.
Abu Bakar Al-Bazzar pun bertanya keheranan, “Mâ bikum, hei…, apa-apaan ini?” ia terheran-heran dengan euforia penduduk setempat setelah mendengar kisahnya, seolah mereka memenangi piala dunia karena saking bahagianya.
Mereka kemudian mendudukkan Abu Bakar yang dianggapnya sebagai seorang syaikh yang sangat mereka hormati itu. “Begini” kata salah satu dari mereka sebagai duta bercerita untuk menjelaskan duduk permasalahannya, “sebenarnya, kakek  yang dulu mengambil dan memiliki kalung permata dari Anda itu adalah….” Kata itu terputus. Ia melanjutkan lagi setelah menahan nafas sejenak untuk mengheningkan cipta sembari menoleh kepada Abu Bakar dan orang-orang di sekitarnya, “…adalah ayah dari gadis yang sekarang Anda nikahi ini.”
“Dulu, ayah gadis ini memuja-muji Anda setelah kejadian paling bersejarah itu. Beliau takjub dengan sikap Anda, sampai-sampai beliau berlebihan dalam berkata, “Mâ fi d-dunyâ illâ hâdza l-ladzî radda `alayya hâdza l-`aqda, di dunia ini tidak ada pemuda muslim shalih yang berhati mulia selain orang yang mengembalikan kalung ini.”
“Bahkan, beliau pernah berdoa, “Allâhumma jma` baynî wa baynahu hattâ uzawwijahu bi ibnatî, ya Allah, kumpulkanlah aku dengan pemuda itu hingga aku menikahkannya dengan putriku.”  Dan sekarang doanya betul-betul dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla.” Cerita yang disampaikan oleh duta itu sampai di sini. Kiranya begitu, kata hati Abu Bakar. Pantas saja, sedemikian bahagianya mereka, ternyata gadis yang dinikahinya itu adalah putri dari orang terpandang, shalih dan kaya di pulau itu.
Semenjak pernikahan Abu Bakar dengan gadis yatim itu, ia tinggal di sana selama beberapa waktu, dan dikaruniai dua orang anak, kemudian istrinya meninggal dan ia mewarisi kalung permata dan juga dua anaknya. Tidak lama berselang, kedua anaknya meninggal dunia, sehingga kalung itu menjadi milik Abu Bakar, dan dijual dengan harga 100.000 dinar (sekira 170.000.000.000 rupiah atau 170 miliar. Wow!). Kisah ini selesai di sini.
Tentang kisah ini, Ibnu Najjar di dalam kitab tarikhnya berkomentar, Hiya hikâyatun `ajîbatun, kisahnya ajaib!.”
Akhukum fillah, Ibnu Abdil Bari el `Afifi.

Minggu, 09 Oktober 2011

~Ungkapan Sekelumit Nasehat ♥


♥.:!:.♥♥.:!:.♥♥.:!:.♥
♥♥♪(¯`v´¯)
`•.¸.•´`•.¸.¸¸.•*¨¨*•.¸¸
`•.¸.¸¸.•*

Ukhty..,kau cantik sekali..
Tapi hanya dimata manusia.
sedangkan yang maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita..
Namun Ia melihat pada hati dan amalan yang dilakukan hambaNYA..

Ukhty...,kau cantik sekali..
tapi cantik fisik tak akan pernah abadi,
Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya.
Namun beberapa saat nanti,saat wajah telah keriput,rambut pun kusut dan berubah putih semua..,
tubuh bungkuk termakan usia,tak ada lagi yang dapat dibanggakan terlebih jika telah memasuki liang lahat,tiada siapapun manusia yang mau mendekat..

Ukhti...,kau cantik sekali..
tapi kecantikanmu hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan ,sepantasnya kecantikan itu disyukuri dengan cara yang benar.

Renungkanlah..
wajah cantik belum merupakan tanda bahwa Allah memuliakanmu..
Demikian pula mereka tidak cantik itu bukan pertandakan Allah menghinakan mereka.
Semua itu adalah ujian dari Allah untuk menguji siapa diantaranya yang paling baik dalam mensyukuri nikmatNYA..,
serta paling takwa dan sabar menjalani hidup ini.
karena itu ingatlah bahwa smua itu hanyalah titipanNYA..

Ukhty...,kau cantik sekali...
menyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan,memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingka rupa,sedangkan hakekatnya itu merupakan milikNYA.

Duhai Ukhty...
tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari..?
tidakkah kau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri memajang tanpa sungkan..
Ataukah rasa malumu telah punah,musnah?
betapa sayangnya sdangkan ia adalah sebagian dari keimanan..

Ukhty...,kau cantik sekali..
tetapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang?
adakah menambah pahala dariNYA?
adakah derajatmu akan lebih tinggi dihadapanNYA,atas pujianya..?
mungkin malah sbaliknya,wajah cantiknya itu menjadikanmu tak punya harga dihadapanNYA ,karena tak mampu memeligara sesuai dengan ketentuanya..

Ukhty...,kau cantik sekali..
kecantikan itu harta yang berharga bukanlah barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah..
Dimana harganya jika stiap mata memandang dengan leluasa,dimana harganya jika kecantikan telah diumbar ,dengan ringan trpajang tanpa sungkan..

Dimana kehormatanya sebagai hamba Tuhan, jika stiap orang baik ia kafir,musyrik,ataupun munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah..?

Duhai Ukhty...,kau cantik sekali...
alangkah indah,jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu..
apalah arti rupawan bila tak memiliki keimanan..
apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang melekat..

Cantikkanlah dirimu dengan cahayaNYA..
Cahaya yang bersinar dari hati yang benderang penuh keimanan..
hati yang taat senantiasa patuh pada syari'at..
hati yang takwa menjalankan perintah dan menjauhi laranganNYA..
Hati yang sederhana ,yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia..

Maka tampilkanlah cantik dihadapan penciptamu karena itu lebih baik daripada penampilanmu didepan orang bukan mukrimmu..

Tampilkanlah cantik didepan suamimu itu adalah sebagian dari jihadmu ..
mengabdi kepada manusia yang kau kasihi demi keridho'an Illahi..
tampilkanlah cantik iman,batin,hati karena kecantikan itu yang lebih abadi..

By :Ukhty Fillah.

Duhai shobat OJ,pesan kami berhati-hatilah kepada yang memajang poto asli terlebih telah tak sedikitnya korban tangan jahil mempergunakanya trkadang dijadikan tidak senono dibuatnya.
semoga untaian kata ,menjadi bahan renungan memawas diri langkah selanjutnya..

Barokallahu fiikum..^_@



Sabtu, 08 Oktober 2011

Aku Mencium Bau Surga

"Kisah nyata" Sebelum meninggal dia mengucapkan "Aku mencium bau Surga"

BismillahirRohmaanirRohiim ...
Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh ...

Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda,

"Ada tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya…di antaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah."

Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhr, ketika perang Uhud ia berkata,
"Wah…angin surga, sungguh aku telah mecium bau surga yang berasal dari balik gunung Uhud."

S eorang Doktor bercerita kepadaku,"Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal -semoga Allah merahmatinya-. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka,
‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal… tenanglah… sesungguhnya aku mencium bau surga.!’

Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan pada dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, jangan kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium bau surga.’


Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. ‘ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta.

Allahu Akbar… apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku komentari… semua kalimat tidak mampu terucap…dan pena telah kering di tangan… aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah Subhanahu wa ta'ala,

‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ (Ibrahim: 27).
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi."

Ia melanjutkan kisahnya,
"Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Maghrib pada hari yang sama.

I. Ia melihat dahinya berkeringat .
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda,
"Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat."Ini merupakan tanda-tanda Husnul Khatimah.

II. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat.
Padahal tubuh orang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.

III. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiaannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
Subhanallah… sungguh indah kematian seperti ini. Kita bermohon semoga Allah menganugrahkan kita Husnul Khatimah.
Saudara-saudara tercinta… kisah belum selesai…

Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya,
apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang ter-larang?
Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat?
Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan?Mengapa ia dapatkan Husnul Khatimah yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkannya; meninggal dengan mencium bau surga.Ayahnya berkata :

"Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya.
Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU’."

Aku katakan,"Maha benar Allah yang berfirman,
‘Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu"Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang.’ (Fushshilat: 30-32)."

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN PENULIS MUHAMMAD BIN SHALIH AL-QAHTHANI, PENERBIT DARUL HAQ,