Senin, 20 Juni 2011

(¯`*•.¸♥ UMMU MA'BAD ♥¸.•*´¯)

Secara diam-diam, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar RA, Amir bin Fahira dan seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith bergegas meninggalkan Makkah menuju Madinah. Duabelas tahun sudah Rasulullah menyebarkan agama Allah di kota Makkah, namun tekanan dari kafir Quraisy kian gencar.

Bahkan, kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Rasulullah beserta sahabatnya yang telah masuk Islam. Guna menghindari kekejaman kafir Quraisy, Rasulullah pun kemudian hijrah ke kota Madinah.

Tanpa perbekalan yang memadai, Rasulullah berangkat menuju Madinah. Sebuah perjalanan yang tak mudah dan tak juga ringan.

Di tengah perjalanan menuju kota Madinah, rombongan Rasulullah melewati sebuah kemah milik seorang wanita tua bernama UMMU MA'BAD di wilayah Qudaid -antara Makkah dan Madinah. Saat itu, Ummu Ma'bad sedang duduk di dekat kemahnya. Lantaran perbekalan yang minim, rombongan Rasulullah pun singgah ke kemah Ummu Ma'bad.

Rasulullah dan sahabatnya ingin membeli daging dan kurma dari Ummu Ma'bad. Namun, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Saat itu, wilayah Qudaid sedang didera musim paceklik. Lalu Rasulullah melihat seekor kambing yang ada di dekat kemah Ummu Ma'bad.

Rasulullah pun bertanya, "Kambing betina siapa ini wahai Ummu Ma'bad?", Ummu Ma'bad menjawab, "kambing betina tua yang sudah ditinggalkan oleh kambing jantan." Rasulullah kembali bertanya, "Apakah ia masih mengeluarkan air susu?" Ummu Ma'bad menjawab, "Bahkan ia tak mengandung air susu sama sekali.'' Lalu Rasulullah meminta izin, "Bolehkah aku memerah air susunya?"

Ummu Ma'bad menjawab, "Jika engkau merasa bisa memerahnya, maka silahkan lakukan.'' Nabi Muhammad SAW pun mengambil kambing tersebut dan tangannya mengusap kantong susunya dengan menyebut nama Allah dan mendo'akan Ummu Ma'bad pada kambingnya tersebut.

Tiba-tiba kambing itu membuka kedua kakinya dan keluarlah air susu dengan derasnya.
Kemudian Rasulullah meminta sebuah wadah yang besar lalu beliau memerasnya sehingga penuh. Beliau memberi minum kepada Ummu Ma'bad hingga ia puas, lalu beliau memberi minum rombongannya hingga mereka pun puas.

Dan beliau adalah orang yang terakhir minum. Beliau kemudian memerah susu untuk kedua kalinya hingga wadah tersebut kembali penuh, lalu susu itu ditinggalkan di tempat Ummu Ma'bad dan beliau pun membai'atnya. Setelah itu rombongan pun berlalu.

Tak lama, datanglah suami Ummu Ma'bad dengan menggiring kambing yang kurus kering, berjalan sempoyongan karena lemahnya. Setelah melihat susu, ia bertanya keheranan, "Darimana air susu ini wahai Ummu Ma'bad? padahal kambing ini sudah lama tidak hamil dan kita pun tidak memiliki persediaan susu di rumah?" Ummu Ma'bad menjawab, "Demi Allah, bukan karena itu semua. Sesungguhnya seseorang yang penuh berkah telah melewati (rumah kita), sifatnya begini dan begitu." Abu Ma'bad berkata, "Ceritakanlah kepadaku tentangnya wahai Ummu Ma'bad."

Ummu Ma'bad bertutur: "Aku melihat seorang yang tawadhu (rendah hati). Wajahnya bersinar berkilauan, baik budi pekertinya, dengan badannya yang tegap, indah dengan bentuk kepala yang pas sesuai bentuk tubuhnya.'' Ia adalah seorang yang berwajah sangat tampan. Matanya elok, hitam dan lebar, dengan alis dan bulu mata lebat nan halus. Suaranya bergema indah berwibawa, panjang lehernya ideal, jenggot nya tumbuh tebal dan sangat kontras lagi sesuai warna rambutnya; rapi, rata pinggir-pinggirnya a (dengan jambangnya) dan antara rambut dan jenggotnya bersambung rapi.

Jika ia diam, nampaklah kewibawaannya. Jika ia berbicara nampaklah kehebatannya. Jika dilihat dari kejauhan, ia adalah orang yang paling bagus dan berwibawa. Jika dilihat dari dekat, ia adalah orang yang paling tampan, bicaranya gamblang, jelas, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Nada bicaranya seperti untaian mutiara yang bergu guran.

Beliau berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Ia bagaikan sebuah dahan di antara dua dahan. Diantara ketiga orang itu, penampilannya paling bagus dan kedudukannya paling tinggi. Ia memiliki banyak teman yang me ngelilinginya. Jika ia berbicara, maka yang lain pun mendengarkannya. Jika ia memerintah, maka mereka segera melaksanakannya. Ia adalah orang yang ditaati, tidak cemberut dan bicaranya tidak sembarangan.

Abu Ma'bad berkata, "Demi Allah, ia adalah seorang dari Quraisy yang sedang diperbincangkan di kalangan kami di kota Makkah. Aku ingin menjadi sahabatnya. Sungguh aku akan melakukannya jika aku bisa menemukan jalan untuk mendapatkannya."

Sungguh terperinci sifat sifat Rasulullah yang dituturkan Ummu Ma'bad. Kisah Ummu Ma'bad sangat masyhur, diriwayatkan dari banyak jalan yang saling menguatkan satu dengan lainnya. (Seperti diuraikan dalam buku Perempuan perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah by Muhammad Ibrahim Salim

~::*♥ Sebuah Kisah Cinta Yang Indah (The Love Story - Bag.ke2 )♥*::~ (¯`*•.¸ (¯`*•.¸(¯`*•.¸_..ƸӜƷ.._¸.•*´¯)¸.•*´¯)..•*´¯)


♥ Fathimah Binti Abdul Malik Bin Marwan.♥
Ia sangat cantik, lembut dan memiliki wawasan, agama yang sangat bagus dan sifat wara’ yang belum dimiliki oleh wanita Bani Umayyah saat itu.
Ia adalah seorang wanita fashih dan sastrawati hebat di zamannya.

Ia menikah dengan seorang pemuda yang bernama Umar Bin Abdul Aziz al-Amawi sebelum ia memegang tampuk pemerintahan.
Umar, suaminya itu mencukupinya dengan hartanya dan memberikan kepuasan dengan pendapatannya, namun ia sendiri juga memiliki harta yang cukup banyak.

Keduanya hidup dalam kesenangan dan kemewahan, namun ketika tampuk pemerintahan diserahkan kepadanya, ia merasa bahwa beban itu terlalu berat tidak sanggup dipikul oleh bahunya.
Diantara kata-kata yang diucapkannya kepada Fathimah:
“Jika kamu ingin tetap bersama saya, maka kembalikan semua harta, perhiasan dan permata yang ada padamu ke Baitulmal kaum muslimin, karena itu semua milik mereka. Jika kamu tidak setuju dengan permintaaanku itu, saya dan kamu tidak akan pernah lagi bersama-sama dalam satu rumah”.

Rumah tangga Umar bin Abdil Aziz dan istrinya berlangsung di rumah ayah Fathimah yang hidup dalam kenikmatan. Tiada seorang pun perempuan di dunia masa itu yang mempunyai kehidupan yang lebih dibandingkan Fathimah. Andaikan dia mau meneruskan gaya hidupnya di rumah suaminya maka tentu bejananya setiap hari dan setiap saat makan akan penuh dengan makanan yang paling enak, paling langka, dan paling mahal. Bila ingin menikmati segala macam kenikmatan yang dikenali manusia, niscaya beliau akan mampu melakukannya.
”

Syaikh Muhibbuddin kemudian mengatakan,
“Yang saya sampaikan berikut bukanlah omong kosong kalau sesungguhnya kehidupan megah dan mewah sangat mungkin akan merugikan kesehatan orang-orang kaya, sementara orang-orang sederhana bisa menikmati kesehatan. Kehidupan yang megah bisa menyebabkan seseorang mendapatkan rasa dengki, hasad, dan kebencian orang-orang miskin. Ditambah lagi, bagaimana pun cerianya kehidupan (yang mewah) lama kelamaan pun menjadi biasa dan membosankan. Apabila orang-orang yang mendapatkan puncak kenikmatan lantas bertemu dengan keadaan fakir maka jiwa mereka pun meminta lebih dari itu, dan mereka pun tidak sanggup mendapatkannya.

Sedangkan orang yang hidup seimbang mengetahui bahwa tangan mereka bisa meraih apa yang lebih dari keadaan mereka dan mereka bisa mendapatkannya kapan pun mereka mau. Hanya saja mereka lebih memilih membebaskan diri darinya dan dari segala kebutuhan mewah agar mereka bisa lebih tinggi di atasnya dan agar mereka tidak menjadi budak syahwat.

Oleh karena itu, Khalifah Agung Umar bin Abdil Aziz memilih
–dalam keadaan beliau sebagai raja terbesar di muka bumi saat itu- menetapkan pengeluaran rumah tangganya hanya beberapa dirham setiap harinya. Sang isteri Khalifah, anak Khalifah, dan saudari empat khalifah itu juga ridha dengan keadaan ini. Fathimah pun menjadi sosok wanita yang dikagumi karena dia bisa menikmati rasa lezat qana’ah dan bersenang-senang dengan manisnya kesederhanaan. Sehingga lezat dan manisnya qanaah ini lebih enak dan memuaskan bagi beliau bila dibandingkan dengan semua kemewahan dan kemegahan yang sebelumnya beliau kenali.

Suami beliau, Umar bin Abdul Aziz pun kemudian menasehati beliau untuk naik dari sifat kekanak-kanakan, meninggalkan semua permainan dan barang rendahan yang dulu elok (berupa perhiasan mewah
–ed.) bagi dua telinga, pundak, rambut, dan pergelangan tangannya, hal-hal yang sebenarnya tidak memberikan manfaat sama sekali yang apabila kemewahannya itu dijual, maka harganya akan bisa mengenyangkan perut para rakyat; kaum pria, wanita, maupun anak-anak.

Fathimah menyambut usul suaminya. Beliau beristirahat dari beratnya perhiasan, intan permata, dan mutiara yang telah dia bawa dari rumah ayahnya. Semuanya dia kirim ke Baitul Mal untuk kepentingan kaum muslimin.

Setelah itu Amirul Mukminin pun wafat tanpa meninggalkan apa-apa bagi isteri dan anak-anaknya. Penanggung jawab Baitul Mal datang kepada Fathimah dan berkata kepadanya,
“Wahai tuanku, sesungguhnya intan permatamu masih senantiasa seperti keadaannya semula. Sesungguhnya saya memandangnya sebagai barang amanah darimu, makanya saya simpan dengan baik hingga hari ini. Saya datang untuk meminta izinmu untuk mengembalikannya.”

Namun apa jawab Fathimah? Beliau menjawab kalau dirinya telah menghibahkannya ke Baitul Mal untuk kepentingan kaum muslimin sebagai ketaatan kepada Amirul Mukminin. Beliau katakan,
“Aku tidak mau menaatinya ketika dia masih hidup lantas menentangnya ketika dia sudah wafat”.

Fathimah enggan menarik kembali harta yang halal dan warisannya yang bernilai milyaran itu, walaupun pada saat itu beliau butuh beberapa dirham. Oleh karena itulah Allah menuliskan kekekalan nama bagi dirinya (namanya tetap dikenang sampai saat ini
–). Dan termasuklah kita saat ini menyebutkan tentang harta bendanya yang melimpah dan ketinggian derajat beliau, sedangkan kita sudah terpisah berabad-abad darinya. Semoga Allah merahmati beliau dan meninggikan tingkatannya di surga kenikmatan.

Sesungguhnya kehidupan yang paling enak ialah kehidupan sederhana dalam segala sesuatu. Betapa pun suatu kehidupan itu kurang atau nikmat maka kalau orangnya menjalani terus dia akan merasa biasa. Kebahagiaan itu ada di saat ada perasaan ridha, dan orang yang merdeka ialah orang yang bebas dari semua yang tidak dia butuhkan. Inilah kekayaan dalam pengertian Islam dan kemanusiaan, semoga Allah menjadikan kita termasuk di dalamnya.
”
Amin...
______________________

kutipan dari tulisan Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib di Muqaddimah Adabuz Zifa

Kamis, 16 Juni 2011

PujaanKU......


PujaanQ...
Namamu tk terukir dlm cttan harianKU..
Asal usulmu tk hadir dlm ilustrasi khidupanKU..
Wjah wujudmu tk trlukis dlm sketsa mimpi-mimpiKU....
Indah suaramu tk terekam dlm pita batinKU...
Namun kau hidup mngaliri pori2 cinta dn semangtKU..
Sebab kau adlh hadiah Agung dr Tuhan untKU...
PujaanKU..

*Habiburrahman El shirazzy*
Ayat-ayat cinta.
Trimakasih ya Allah...

DO'AKU UNTUKMU....


YA ALLAH… Aku berdo’a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia
Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah
Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya
YA ALLAH… Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
YA ALLAH… Aku juga meminta, Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana, mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: “Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”
Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan
Amin….   

Rabu, 15 Juni 2011

ANDAI ALQUR'AN BISA BICARA...


Waktu engkau masih kanak-kanak
Bagiku kau laksana kawan sejati,
Dengan wudhu, Aku, kau sentuh……..
Dalam keadaan suci Aku kau pegang……….
Kau junjung…., kau pelajari…..
Setiap hari…… aku, kau baca dengan suara
lirih….atau bahkan dengan lantangnya,
Dan seusainya, kau cium Aku dengan sepenuh
mesra….

Kini, engkau telah dewasa, atau bahkan kian
matang…….
Namun, nampaknya kini, engkau sudah tak berminat
lagi padaku……
Barangkali….., menurutmu, Aku hanya bacaan usang
yang menjadi bagian sejarah kanak-kanakmu….
Aku, barangkali….., hanya bacaan yang menurutmu
tidak menambah pengetahuan dan wawasan sama
sekali…….

Kini, Aku kau simpan….., sedemikian
rapihnya…………..
Rapih….. sekali……
Hingga kadang engkau bahkan lupa….., di mana
menyimpannya…..
Atau mungkin aku sudah kau anggap sekedar penghias
rumah, pelengkap koleksi buku-bukumu…..
Atau kadangkala….., aku  kau jadikan mas kawin,
agar engkau dianggap bertaqwa…
Atau aku kau buat penangkal bencana, untuk
menakuti hantu, setan, tuyul, jin dan
sebangsanya…..

Kini aku tersingkir……
Sendiri…..
Kesepian…..
Di atas, atau di dalam lemari,
di dalam laci….,
di sudut-sudut ruang……
Kau acuhkan Aku……

Dulu….. pagi-pagi sekali……
Surat-surat yang ada padaku engkau baca beberapa
halaman….
Sorenya…, kembali kau baca aku, ramai-ramai,
dengan teman-temanmu di surau…..
Kini…..,
pagi-pagi…..,
Engkau membaca koran pagi, atau menonton berita di
TV….,
sambil minum kopi…..
Di waktu senggang…..
Kau sempatkan membaca buku karangan manusia……,
yang sesekali kau bahas dan jadikan topik
perbincangan dengan kolega-kolegamu….
Sementara aku……
Aku adalah rangkaian ayat-ayat Cinta dari  Sang
Maha Pencipta…..
Namun, engkau sampai hati untuk
mencampakkannya……,
mengabaikannya,
melupakannnya………

Waktu berangkat kerjapun, kadang kau lupa untuk
sekedar membaca pembuka surat-suratku….
"Bismillahirrahmaanirrahiim"
Di perjalanan….
Engkau pun asyik menikmati musik-musik duniawi…
Tidak ada kaset yang berisi ayat-ayat Cinta dari
Rabb-mu, di laci mobilmu….
Di meja kerjamu….
Tidak ada aku, untuk kau baca sebelum memulai
kerja…,
dan pelipur penat batin di tengah-tengah kesibukan
harimu…..
Email temanmu yang kau dahulukan….., sementara
aku tersiakan…
Engkau terlalu sibuk kini…..
Dengan segala urusan dunia yang melenakan…
Benarlah dugaanku, bahwa engkau kini sudah
benar-benar melupakanku……

Saat malam tiba…, engkau tahan duduk berjam-jam
di depan TV,
untuk menyaksikan pertandingan liga Italia,
sinetron, atau
tayangan-tayangan komersial buatan manusia….
Membawa tugas-tugas kantor yang bertumpuk……
Bergadang hingga larut untuk
menyelesaikannya…………..
Engkau tahan duduk berjam-jam di depan komputer
untuk itu…….
Engkau tahan untuk yang lain….., namun kau
sisakan kantuk  dan letih untukku…….

Waktu pun terus bergulir
Aku semakin terlihat kusam di tempatnya…..
Bersimbah debu, atau bahkan dimakan kutu……
Seingatku………..
Hanya sesekali kini kau sentuh aku…..
Di awal Ramadhan…., dan itupun hanya beberapa
lembar dariku saja yang sempat terbaca….
Bacaanmu pun tak lagi semerdu dulu….
Lafadzmu pun terasa kaku….
Engkau kini membacaku dengan terbata-bata……
Padahal…, setiap waktu yang mengalir….,
mengantarkanmu semakin cepat ke liang kubur……

Duhai…………
Apakah koran, TV, radio dan komputer, dapat
memberimu syafa’at…..,
saat engkau sendiri di dalam kubur, menanti
tibanya hari kiamat….?
Saat engkau diperiksa oleh para malaikat
pesuruhNYA…..?
Hanya ayat-ayat CintaNYA yang ada padaku, dapat
menyelamatkanmu…..
Seandainyalah kau baca aku selalu…….,
Kau resapi dan amalkan……., niscaya aku akan
datang menolongmu….
Sebagai pemuda gagah nan tampan…..
Aku akan membantumu membela diri…….
Bukan koran……, TV, radio atau apapun teknologi
buatan manusia…….
yang kau agungkan dan kau dewakan itu…..

Duhai sahabatku……
Peganglah aku lagi…….., bacalah aku lagi
setiap hari…..
Karena di dalamnya ada Lafadz-lafadz Cinta dari
PenciptaMu….
Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui…….
Dari Sang Penguasa alam semesta……
Yang tersampaikan melalui kejadian-kejadian
mulia…, oleh Jibril kepada Muhammad SAW…..

Duhai sahabatku…..
Sentuhlah aku kembali…, seperti dulu……
Baca dan pelajarilah aku lagi……
Di setiap datangnya pagi dan petang……
Seperti dulu…..,
dulu sekali…….. di surau itu……
Jangan kau biarkan aku dalam sepi yang bisu…..
Karena aku ada……, untuk menuntun
jalanmu………
Akulah panduan hidup dari Sang Maha Hidup……..
Aku yang akan memberimu keindahan hidup sejati….

dunia-akhirat…….
————————————–
Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu
kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah
berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.
(QS:3:108)

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang
dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan
atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya
orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu
Al Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah
kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang
beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah
menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah
memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan
orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana
disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu
terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga
datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak
menyalahi janji.
(QS: 13:31)

Katakanlah: "Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah)
yang mengetahui rahasia di langit
dan di bumi". Sesungguhnya Dia adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS : 25:6)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik
(yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya)
lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian
menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab
itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada
seorang pun pemberi petunjuk baginya.
(QS : 39 : 23)

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini
kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya
tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.
Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk
manusia supaya mereka berpikir.
(QS : 59 : 21)

Saduran dan modifikasi
Dikutip dari buku
" Majmu’ Syafaat - Mengambil Manfaat Al Quran"